Pada awalnya kegiatan pengajian ini diadakan di rumah, akan tetapi dikarenakan jumlah anak yang ikut mengaji bertambah banyak dari waktu ke waktu, maka pengajian dipindahkan ke sebuah "langgar" berukuran kurang lebih 5 x 6 meter.
Ternyata luas Langgar seukuran kamar tersebut tidak dapat menampung jumlah santri yang nyantri waktu itu, kemudian Ustadz. Amin dan masyarakat membangun sebuah madrasah yang agak besar seukuran 8 x 8 dengan beratapkan jerami serta beralaskan tanah serta beberapa meja dan kursi yang terbuat dari bambu yang dibentuk seperti papan, saking memprihatinkan madrasah tersebut. orang-orang menyebutnya madrasah kandang kambing.
Teriring berjalanya waktu jumlah santri yang terus bertambah (ada juga yang datang dari jauh) maka didirikanlah Madrasah yang berukuran 7 x 40 meter dan pengajian pun dipindahkan ke pagi hari. Pada tanggal 4 Mei 1940 diresmikanlah Madrasah tersebut sebagai Pesantren Persatuan Islam No. 67 oleh Pimpinan Pusat Persatuan Islam yang ketika itu diketuai oleh KH. Isa Anshari.
Kemudian Pesantren ini berkembang sedikit demi sedikit, diawali dengan didirikannya Madrasah Diniyyah, Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah. Pada tahun 1976 KH. U. Aminullah menyerahkan kepengurusan Pesantren kepada putranya Drs. H. Shiddiq Amien, MBA. Beberapa tahun kemudian Pesantren ini berkembang seperti yang kita lihat sekarang. Sepeninggal Ust. Shiddiq Amien (31 Oktober 2009), kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh kakak beliau K.H. Muhtarom Amien hingga sekarang
Tidak hanya sampai disitu, karena jumlah santri yang terus bertambah (ada juga yang datang dari jauh) maka didirikanlah Madrasah yang berukuran 7 x 40 meter dan pengajian pun dipindahkan ke pagi hari. Pada tanggal 4 Mei 1940 diresmikanlah Madrasah tersebut sebagai Pesantren Persatuan Islam No. 67 oleh Pimpinan Pusat Persatuan Islam yang ketika itu diketuai oleh KH. Isa Anshari.
Kemudian Pesantren ini berkembang sedikit demi sedikit, diawali dengan didirikannya Madrasah Diniyyah, Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah. Pada tahun 1976 KH. U. Aminullah menyerahkan kepengurusan Pesantren kepada putranya Drs. H. Shiddiq Amien, MBA. Beberapa tahun kemudian Pesantren ini berkembang seperti yang kita lihat sekarang. Sepeninggal Ust. Shiddiq Amien (31 Oktober 2009), kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh kakak beliau K.H. Muhtarom Amien hingga sekarang
Pesantren Persatuan Islam 67 Benda berada di sebelah utara Kota Tasikmalaya, tepatnya di kampung Benda Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes, Pesantren ini menempati areal seluas kurang lebih 3,5 H.
Sumber: persis67benda.com
0 comments:
Post a Comment